Langsung ke konten utama

Kesadaran dan Kepedulian Terhadap Wabah Corona (Covid-19)

 

Abstrak

 

Awal tahun 2020 ini umat manusia diseluruh dunia di goncang dengan pandemi Virus Corona (Covid-19) yang membuat kepanikan dimana-mana. Ratusan ribu manusia terinfeksi dan ribuan manusia meninggal dunia. Untuk di Indonesia sendiri pemerintah telah memberikan himbauan-himbauan kepada masyarakat dalam mengatasi wabah ini agar berjalan efektif dan efisien. Tetapi pada kenyataannya masih banyak masyarakat Indonesia yang tidak mengindahkan himbauan ini. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisa mengapa sebagian masyarakat memunculkan perilaku tersebut dan bagaimana cara mengatasinya, hasil menunjukkan bahwa perilaku yang ditampilkan oleh orang yang tidak mematuhi himbauan pemerintah didasari oleh bias kognitif. Selain memaparkan kiat-kiat menjaga kesejahteraan jiwa dalam pendekatan psikologi positif. Metode penelitian yang digunakan oleh peneliti ini adalah studi kepustakaan dengan pendekatan desritif analisi.

Kata Kunci:

Pandemic Covid-19, Bias Kognitif, Kesejahteraan jiwa


Pendahuluan

            Pada awal tahun 2020 di dunia dikejutkan dengan wabah virus corona (covid-19) yang menginfeksi hampir seluruh Negara di dunia. WHO semenjak januari 2020 telah menyatakan dunia masuk kedalam darurat global terkait virus ini. Ini merupakan fenomena luar biasa yang terjadi di bumi pada abad ke 21 yang skalanya mungkin dapat disamakan dengan perang Dunia II, karena event-event skala besar (pertandingan-pertandingan olahraga internasional contohnya) hampir seluruhnya ditunda bahkan dibatalkan kondisi ini perna terjadi hanya pada saat terjadi perang dunia saja, tidak perna ada situasi lainnya yang dapat membatalkan acara-acara tersebut. Terhitung mulai tanggal 19 maret 2020 sebanyak 214.894 orang terinveksi virus corona , 8.732 orang meninggal dunia dan pasien yang telah sembuh sebanyak 83.313 orang.

Khusus Indonesia sendiri pemerintah telah mengeluarkan status darurat bencana terhitung mulai tanggal 29 Februari 2020 hingga 29 Mei 2020 terkait pandemic ini dengan jumlah waktu 91 hari. Langkah-langkah dilakukan oleh pemerintah untuk dapat menyelesaikan kasus luar biasa ini, salah satunya adalah dengan mensosialisasikan gerakan Social Distancing. Konsep ini menjelaskan bahwa untuk dapat mengurangi bahkan memutus mata rantai infeksi covid-19 seseorang harus menjaga jarak aman dengan manusia lainnya minimal 2 meter, dan tidak melakukan kontak langsung dengan orang lain, menghindari pertemuan massal. Tetapi banyak masyarakat yang tidak menyikapi hal ini dengan baik, seperti contohnyapemerintah sudah meliburkan para siswa dan mahasiswa untuk tidak berkuliah adau bersekolah ataupun membelakukan bekerja dalam rumah, namun kondisi ini malahan dimanfaatka oleh banyak masyarakat untuk berlibur. Selain itu walapun Indonesia sudah dalam keadaan darurat masih saja akan dilaksanakan tabliq akbar, dimana akan berkumpul ribuan orang di satu tempat, yang jelas dapat menjadi mediator terbaik bagi penyebaran virus corona dala skala yang jauh lebih besar. Selain itu masih banyak juga masyarakat Indonesia yang menggangap enteng viru ini. Dengan tidak mengindahkan himnauan-himbauan pemerintah.

Perilaku yang tidak normal yang ditunjukkan oleh fenomena diatas memicu penelitian untuk menganalisa lebih jauh secara psikologi mengapa hal tersebut dapat terjadi disaat kondisi Negara sedang dalam keadaan bencana dan bagaimana cara menyadarkan masyarakat atas kepedulian terhadap wabah covid-19.

 

 

Metode Penelitian

            Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan, yaitu studi yang objek penelitiannya berupa karya-karya kepustakaan baik berupa jurnal ilmia, buku artikel dalam media massa, maupun data-data statistika. Kepustakaan tersebut akan digunakan untuk menjawab permasalahan penelitian yang diajukan oleh penulis yang dalam hal ini adalah mengapa masyarakat Indonesia menunjukkan perilaku tertentu dalam menghadapi covid-19 dan bagaimana mengatasinya menyadarkan asyarakat atas kepudulian terhadap wabah covid-19, adapun sifat dari studi yang dilakukan adalah desriftif analisis yaitu memberikan edukasi danpemahaman kepada pembaca, serta jenis data yang digunakan dalam penelitian adalah data skunder.

Pembahasan

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO pada tanggal 11 Maret 2020 lalu telah menetapkan bahwa COVID-19 dapat dikategorikan sebagai sebuah pandemik. Pandemik sendiri adalah sebuah fenomena di mana sebuah penyakit menyebar luas dalam skala global. Dengan penetapan COVID-19 sebagai sebuah pandemik, tidak mengubah karakteristik dari penyakit itu sendiri namun lebih kepada kewaspadaan terhadap penyebaran virus secara geografis. Artinya penetapan sebagai pandemik, bukan dimaksudkan untuk membuat masyarakat panik, cemas, ketakutan yang berlebihan namun untuk lebih memawasi diri, lebih aware dan sensible terhadap fenomena yang terjadi. Kepanikan yang berlebihan justru akan memperparah kondisi, begitu juga dengan being indifference atau menyepelekan bahkan acuh tak acuh.

Dengan adanya fenomena ini, akan sangat berdampak dalam berbagai aspek, baik secara ekonomi, sosial, akademis dan lainnya. Adanya fenomena yang terjadi dalam skala yang besar, membutuhkan upaya dan kerjasama bukan hanya dari pemerintah, tim medis, kelompok atau komunitas saja tetapi juga upaya dari seluruh masyarakat untuk ikut serta paling tidak dalam mengurangi kemungkinan penyebaran virus dengan cara lebih peduli dan sadar tindakan apa yang seharusnya diambil.

Penyebaran virus ini memang terbilang sangat cepat dan akan sulit untuk mendeteksinya apabila tidak ada kesigapan dan kesiapan. Oleh karena itu, salah satu langkah yang terbilang cukup efektif adalah dengan melakukan langkah prefentif untuk meminimalisir penyebaran virus pada tingkat individu. Berikut beberapa langkah yang bisa kamu lakukan:

1.      Social Distancing

Social distancing mengarah pada menjauhi dan menghindari kontak dekat dengan orang lain guna menghindari paparan dan penyebaran virus corona. Salah satu social distancing yang dapat dilakukan adalah menghindari dan menghentikan adanya kegiatan yang melibatkan kerumunan atau orang banyak, mendorong work from home dan pembelajaran jarak jauh. Social distancing merupakan salah satu langkah yang dapat digunakan untuk meminimalisir risiko penularan dan penyebaran virus.  Lakukanlah sebisa mungkin seluruh aktivitas dirumah, dan kalau memang tidak urgent dan mendesak akan lebih baik kalau kamu tidak keluar rumah.

Mungkin ada beberapa orang yang berpikir bahwa kebijakan ini akan membuat mereka merasa terkekang, lebih panik dan merasa dibatasi. Namun perlu diingat bahwa tujuan dari social distancing adalah untuk memperkecil risiko penularan, artinya ini dilakukan untuk kemaslahatan orang banyak. Semakin banyak orang yang melakukan social distancing, semakin kecil pula risiko penularan. Dengan mempraktikkan langkah ini, adalah merupakan salah satu cara untuk mengkontrol angka penularan. 

Bayangkan apabila semua orang tidak peduli dan acuh tak acuh terhadap fenomena ini,  hal ini akan membuat angka penularan semakin tinggi, karena kita sendiri tidak memiliki data dan riwayat pasti siapa dan dimana saja yang telah terpapar. Dengan adanya peningkatan angka penularan, apabila tim medis tidak memiliki sarana dan prasarana yang memadai maka akan sangat sulit bagi seluruh pasien tersebut untuk mendapatkan akses kesehatan. Oleh karenanya, dengan social distancing bukan hanya untuk mengurangi risiko penyebaran, tapi dengan begitu maka akses kesehatan bisa diperoleh dengan lebih mudah.

Namun demikian, realita di lapangan tidak memungkinkan seluruh elemen masyarakat untuk melakukan social distancing dan work from home. Kita tahu bahwa, setiap orang memiliki tuntutan dan kewajiban yang berbeda-beda. Bagi individu yang bekerja di kantor atau sektor formal, mungkin lebih mempunyai privilege dikarenakan perusahaan memberikan kemudahan untuk bekerja dari rumah.

Tetapi bagi mereka yang bekerja di lapangan atau pada sektor informal akan mempunyai kesulitan untuk melakukan work form home, dikarenakan sumber penghasilan mereka berasal dari pekerjaan tersebut. Ke depannya semoga terdapat kebijakan dari pemerintah mengenai hal ini yang sekiranya mampu menjamin bukan hanya keamanan dan kesehatan seluruh masyarakat saja tetapi juga keberlangsungan hidup mereka. Atau bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan finansial, yang mana mereka tinggal pada area padat penduduk dan biasanya dalam satu rumah dihuni oleh banyak anggota keluarga, tentu akan kesulitan untuk melakukan social distancing.

Kendati demikian, yang dapat dilakuan adalah dengan lebih mawas diri, menerapkan kebiasaan hidup sehat dan memberikan akses informasi yang lebih terbuka dan dapat dipertanggung jawabkan, sehingga dapat meningkatkan kepedulian dan kesadaran terhadap situasi dan kondisi saat ini. Sebisa mungkin hindarilah kontak langsung dengan orang lain, beribadah bisa dilakukan dirumah, selalu menjaga kebersihan, meningkatkan sistem imunitas tubuh dan tentunya optimis bahwa kita bisa melewati situasi ini bersama.

2.      Biasakan Mencuci Tangan Setelah Beraktifitas

Mulai sekarang biasakanlah selalu mencuci tangan setelah beraktivitas atau melakukan kontak fisik baik dengan benda maupun orang. Mencuci tangan dianggap ampuh dalam mengurangi risiko terkena penyakit, termasuk COVID-19. Mencuci tangan adalah salah satu langkah preventif yang wajib dilakukan, dikarenakan dengan kamu mencuci tanganmu dengan benar maka bakteri yang menempel pada tanganmu akan mati. Kebersihan dan disiplin adalah kunci utama dalam kesehatan.

Namun jangan lupa, cuci tangan pun juga harus dilakukan dengan benar untuk memastikan tangan kamu benar-benar bersih dari berbagai kotoran dan bakteri. Cuci tangan yang benar sesuai dengan instruksi WHO dapat dilihat pada gambar diatas. Secara umum, cuci tangan yang benar sebaiknya dilakukan selama 40-60 detik dan benar-benar membersihkan tangan hingga sela-sela jari.

Petunjuk mencuci tangan yang benar sesuai anjuran WHO:

1.      Basahi tangan dengan air

2.      Tuangkan sabunsecukupnya sampai menutupi permukaan tangan

3.      Gosok telapak tangan dengan arah memutar atau searah jarum jam

4.      Gosok telapak tangan pada punggung tangan kiri, dengan posisi jari seperti sedang menggenggam lakukan bergantian

5.      Gosok kedua telapak tangan dengan posisi jari seperti sedang menggenggam

6.      Gosok punggung jari ke permukaan tangan dengan pisis mencuci atau lebih mudahnya seperti posisi tangan saat sedang foto resmi kondangan, lakukan bergantian

7.      Gosok ibu jari tangan kiri dengan tangan kanan secara jarum jam, lakukan secara bergantian

8.      Gosok telapak dan punggung tangan kiri dengan jari tangan kanan, lakukan secara bergantian

9.      Bilas tangan dengan air bersih mengalir

10.  Keringkan tangan dengan handuk sekali pakai atau dengan tisu

11.  Matikan keran air dengan tisu

12.  Buang tisu pada tempatnya

13.  Tanggan mu sudah bersih

 

3.      Gunakan hand sanitizer atau alcohol dan bila diperlukan

Apabila tidak memungkinkan untuk mencuci tangan, maka kamu bisa membersihkan tanganmu menggunakan hand sanitizer. Langkah ini bisa digunakan sebagai alternatif untuk memastikan tangan kamu dalam kondisi bersih. Durasi langkah ini adalah selama 20-30 detik. Untuk cara membersihkan tangan dengan benar menggunkan hand sanitizer sesuai himbauan WHO dapat mengacu pada gambar diatas, atau seperti dibawah ini:

  1. Tuangkan cairan secukupnya
  2. Gosok telapak tangan dengan arah memutar atau searah jarum jam
  3. Gosok telapak tangan kanan pada pungung tangan kiri, dengan posisi jari seperti sedang menggengam, lakukan bergantian
  4. Gosok kedua telapak tangan dengan posisi jari seperti sedang menggengam
  5. Gosok punggung jari ke permukaan tangan dengan posisi mengunci atau lebih mudahnya seperti posisi tangan saat sedang foto resmi kondangan, lakukan bergantian
  6. Gosok ibu jari tangan kiri dengan tangan kanan searah jarum jam, lakukan secara bergantian
  7. Gosok telapak atau punggung tangan kiri dengan jari tangan kanan, lakukan secara bergantian
  8. Saat tanganmu sudah kering, artinya tanganmu sudah dalam kondisi bersih

4.      Gunakan Masker seperlunya

masker pun juga harus disesuaikan dan jangan sampai terlalu berlebihan sampai menimbun ratusan masker. Lakukanlah dengan bijaksana dan manusiawi. Anjuran penggunaan masker adalah bagi individu yang sedang sakit dan untuk para tenaga medis. Bagi individu yang memang dalam kondisi sehat, tidak dianjurkan untuk menggunakan masker, yang harus dilakukan adalah dengan menjaga kebersihan dan selalu mencuci tangan setelah melakukan kontak. Gunakanlah masker dan peralatan kesehatan dengan sebijaksana mungkin, jangan terlalu panik dan melebih-lebihkan, tapi tetaplah peduli, sadar dan waspada, namun tidak lebay. Bayangkan apabila seluruh masyarakat berbondong-bondong membeli masker atau alat kesehatan dalam jumlah yang sangat besar, hal ini akan membuat ketersediaan masker menjadi menipis di pasar, sedangkan para tenaga medis dan orang-orang yang sakit yang notabene sangat membutuhkan barang tersebut, tidak mampu mendapatkannya. Oleh karenanya, belilah dan gunakanlah barang tersebut dengan bijaksana.

Apabila kamu dalam kondisi sehat, kamu tidak perlu menggunakan masker terutama apabila kamu sedang melakukan social distancing, gunakan masker sewajarnya dan memang apabila kondisi menuntutnya mungkin seperti saat kamu sedang naik transportasi publik. Tapi balik lagi ya, akan lebih baik kalau kamu tetap menjaga jarak dan tidak melakukan kontak fisik dengan benda atau orang, kalaupun secara tidak sengaja segeralah untuk mencuci tanganmu dan hindari mengusap tanganmu kedaerah sekitar mata dan hidung. Selain itu saat menggunakan dan melepaskan masker juga harus dilakukan dengan benar, pastikan masker tidak sampai terbalik dan band atau penyangga hidung terpasang dengan benar. Setelah kamu selesai menggunakan masker, langsung buanglah pada tempatnya dan mencuci tanganmu. Ingat ya satu masker hanya dipakai sekali saja. 

Kemudian terapkanlah etika yang benar saat sedang bersin atau batuk, mungkin kamu sudah terbiasa untuk menutup tangan saat kamu sedang bersin dan batuk, tapi akan lebih baik kalau kamu merubah kebiasaanmu itu. Maksud hati mungkin baik untuk tidak membuat orang lain tertular, tapi kembali lagi kamu mungkin tidak akan tahu setelah kamu bersin, tanganmu akan melakukan kontak dengan apa dan siapa. Oleh karenanya, disaat kamu akan bersin dan batuk, tutupi dengan lengan tanganmu bukan telapak tangan. Hal ini bisa dilakukan untuk mengurangi risiko penularan secara kontak fisik

5.      Tingkat Sistem Kekebahan Tubuh

Selain beberapa langkah diatas, kamu juga perlu untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuhmu. Terdapat berbagai cara untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh, seperti dari vitamin d yang bisa didapat dari sinar matahari di pagi hari, mengkonsumsi makanan yang sehat dan bernutrisi, berolahraga, mengkonsumsi suplemen, istirahat yang cukup dan lainnya. Sebenarnya ada banyak cara yang dapat kamu lakukan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuhmu, pilihlah salah satu cara yang menurutmu mudah untuk dilakukan. Contohnya kamu bisa meluangkan waktumu sekitar 5-10 menit untuk mendapatkan sinar matahari di pagi hari disaat kondisi udara masih segar dan tentunya dengan catatan lakukan dengan kondisi hindari kontak langsung dengan orang lain atau kamu bisa berolahraga sederhana di rumah, seperti push up, plank, lari ditempat atau yoga, untuk saat ini hindari pergi olahraga di gym.

Pastikan tubuh kamu mendapatkan istirahat yang cukup, untuk membiarkan tubuh dan otakmu menjadi lebih tenang, istirahat yang kurang dan sering bergadang bisa membuat kondisi tubuhmu tidak fit. Yang terpenting adalah meskipun kamu melakukan social distancing, tidak bisa menjadikan alasan kamu tidak bisa menjaga kesehatan tubuh dan mentalmu. Gunakanlah waktumu sebaik mungkin untuk selain menjaga kesehatanmu tetapi juga tetap berkarya.

Menyadarkan Kepeduliah Terhadap Wabah Covid-19

Pandemi virus Corona atau COVID-19 membuat berbagai lini kehidupan manusia harus berubah untuk mencegah penyebaran virus tersebut. Termasuk cara beribadah, dimana keharusan melakukan pembatasan fisik (physical distancing), membuat banyak tempat ibadah ditutup dan ibadah lebih baik dilakukan di rumah. Kalau pun tetap beribadah di tempat ibadah, itu harus dilakukan dengan menjaga jarak. Namun pembatasan fisik bukan berarti membatasi kepedulian sosial. Justru di tengah bencana dan bersamaan bulan suci Ramadhan, kepedulian sosial harus terus ditumbuhkan, terutama dalam membantu kelompok yang paling berdampak, baik secara ekonomi maupun secara fisik. Selain kepedulian sosial, gotong royong juga harus dikuatkan dalam menjalankan program pencegahan COVID-19 bersama pemerintah.

Apapun konsep yang dilakukan, entah itu lockdown, social distancing atau apa pun lainnya, jika masyarakat tidak bisa disiplin dan punya kesadaran tinggi, itu tidak akan pernah berhasil."Sudah ada arahan Presiden untuk bekerja dari rumah, beribadah di rumah, tapi tidak dipatuhi. Ini menunjukkan bahwa kesadaran atau kedisiplinan kita masih rendah. Dibutuhkan kesadaran kolektif untuk memahami bahwa ancaman virus ini tidak boleh lagi dianggap enteng," tegas Doni. Pemerintah-pemerintah daerah, dalam kondisi seperti ini, juga diminta memiliki manajemen kelola yang mumpuni dalam mengendalikan masyarakat mereka. Pemerintah daerah harus memiliki strategi yang tegas agar imbauan-imbauan yang dikeluarkan dapat ditaati oleh masyarakat setempat. "Ada imbauan dari kepala daerah tapi tidak ditaati rakyat, apa gunanya? Katakan saja begini, ada imbauan dari Kemendikbud untuk belajar di rumah, tapi ternyata dipakai untuk berlibur, untuk jalan-jalan," tutur dia. Para pejabat desa harus turun langsung dan memberikan pemahaman kepada masyarakat. Libatkan seluruh perangkat yang ada seperti PKK hingga Karang Taruna. "Bila ini optimal, kita bisa mengurangi risiko dan kita bisa menyelamatkan warga kita yang memiliki penyakit bawaan," sambung Doni. Pemuka-pemuka agama di berbagai daerah juga diminta untuk menanggapi persoalan yang ada dengan bijaksana dan turut serta dalam menyosialisasikan arahan pemerintah. "Kita harap mereka bisa memahami bahwa pengumpulan masyarakat di tempat-tempat tertentu terutama di rumah ibadah bisa memunculkan risiko tinggi. Orang yang terlihat sehat bisa saja sudah terinfeksi, membawa virus. Bayangkan, kalau misalnya dia beribadah ke masjid atau gereja, kemudian menularkan ke orang tua atau saudara kita yang memiliki kesehatan kurang bagus. Itu bisa sangat berbahaya," tutur pria yang juga menjabat sebagai Kepala BNPB itu. Jika masyarakat disiplin, memiliki kesadaran tinggi, mau melindungi sesama, social distancing pun mampu untuk menahan laju penyebaran Covid-19

Kesimpulan

            Masih banyaknya masyarakat Indonesia yang tidak mematuhui dari pemerintah untuk menanggulangi pandemic virus corona ini, diakibatkan oleh salah satu konsep melanggar peraturan yang di tetapkan oleh pemerintah jadi Oleh karena itu, salah satu langkah yang terbilang cukup efektif adalah dengan melakukan langkah prefentif untuk meminimalisir penyebaran virus pada tingkat individu. Berikut beberapa langkah yang bisa kamu lakukan:

1.      Social distancing

2.      Mencuci tangan setelah beraktifitas

3.      Menggunakan masker

4.      Gunakan hand sanitizer atau alcohol dan bila diperlukan

5.      Tingkatkan sistem kekebahan tubuh

Selain kepedulian sosial, gotong royong juga harus dikuatkan dalam menjalankan program pencegahan COVID-19 bersama pemerintah.

Referensi

Aida,N.R. (2020, Maret 19). Update Virus Corona di Dunia 214894 Orang terinfeksi 83313 sembuh, 8.732 Meninggal dunia Kompas.com Diunduh dari https://www.kompas.com/tren/read/2020/03/19/08163365/update-virus-corona-di-dunia-214894-orang-terinfeksi-83313-sembuh-8732

Hariyadi,D.(2020,maret 18). Pandemic corona, ribuan orang ikut tabligh akbar se-Asia di Gowa. Tempo.co. Diunduh dari http://nasional.tempo.co/read/321285/pandemi-corona-ribuan-orang-ikut-tabligh-akbar-se-asia-di-gowa

https://mediaindonesia.com/read/detail/297716-kesadaran-masyarakat-kunci-penanggulangan-covid-19

CNN Indonesi. (2020, maret 14). Mengenal sosial distancing sebagai cara mencegah corona. CNN Indonesia. Diunduh dari https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20200314102823-255-483358/mengenal-sosial-distancing-sebagai-cara-mencegah-corona


Komentar